berita

10 May 2026

Cerita Pendidikan

SATU MURID DI KELAS PERIKANAN

Cerita dari SMK Negeri 1 Mempawah Hulu

✍️ Priyo Radika Rizki, S.Pi

SMK Negeri 1 Mempawah Hulu berada di Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Di sekolah ini saya mengajar sebagai guru produktif Agribisnis Perikanan.

Beberapa tahun terakhir, jurusan ini semakin sepi peminat. Banyak siswa lebih memilih jurusan lain yang dianggap lebih menjanjikan untuk masa depan mereka.

Tahun ajaran ini, kelas XI Agribisnis Perikanan hanya memiliki satu murid bernama Wandi.

Ketika jam pelajaran dimulai, suasana kelas terasa berbeda dibandingkan kelas lain. Tidak ada suara ramai teman-teman sekelas. Tidak ada diskusi kelompok. Di ruang belajar itu, hanya ada saya dan Wandi.

Kadang saya tetap berdiri di depan papan tulis seperti biasa, menjelaskan materi meskipun yang mendengarkan hanya satu orang.

Kadang proses belajar dilakukan di perpustakaan sekolah agar suasana tidak terasa terlalu sunyi. Kursi-kursi tersusun rapi, sementara pembelajaran tetap berjalan seperti hari-hari biasa.

Tidak semua proses belajar berjalan lancar.

Ada hari-hari ketika Wandi tidak masuk sekolah karena harus membantu orang tuanya bekerja. Sebagai anak di daerah, membantu keluarga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak mudah dihindari.

Terkadang ia datang terlambat dengan wajah lelah, tetapi keesokan harinya tetap kembali ke sekolah.

Banyak orang mungkin bertanya mengapa jurusan ini masih dipertahankan jika muridnya hanya satu.

Pertanyaan seperti itu memang pernah terdengar. Namun bagi saya, sekolah bukan sekadar tentang jumlah peserta didik. Sekolah adalah tempat menjaga harapan agar tetap hidup.

Wandi mungkin hanya satu murid di kelas XI Agribisnis Perikanan, tetapi ia tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Ia tetap berhak mendapatkan guru, pembelajaran, praktik, dan kesempatan belajar seperti siswa lainnya.

Karena pendidikan yang bermutu seharusnya dapat dirasakan oleh semua anak, tanpa memandang banyak atau sedikitnya peserta didik.

Mengajar satu murid membuat proses belajar terasa lebih dekat.

Saya dapat memahami kesulitan yang ia hadapi, mendengar cerita tentang keluarganya, dan mengetahui alasan mengapa terkadang ia harus memilih membantu orang tua daripada hadir di kelas.

Di ruang kelas yang sunyi itu, saya justru belajar memahami arti pendidikan secara lebih nyata.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pendidikan di daerah masih menghadapi banyak tantangan.

Tidak semua siswa dapat belajar dalam keadaan yang benar-benar nyaman. Ada yang harus membagi waktu antara sekolah dan membantu keluarga. Ada pula jurusan tertentu yang perlahan kehilangan peminat karena dianggap tidak memiliki masa depan yang jelas.

Padahal Indonesia memiliki potensi besar di bidang perikanan.

Daerah seperti Kalimantan Barat juga memiliki sumber daya alam yang dapat dikembangkan melalui pendidikan kejuruan. Namun tanpa perhatian dan dukungan bersama, jurusan seperti Agribisnis Perikanan akan semakin sulit berkembang.

Pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kepedulian dari banyak pihak agar setiap jurusan tetap memiliki kesempatan untuk bertahan.

Meski demikian, proses belajar di kelas kecil itu tetap berlangsung.

Saya masih datang untuk mengajar, dan Wandi masih datang membawa buku serta seragam sekolahnya.

Di balik keadaan yang sederhana itu, ada usaha untuk menjaga pendidikan agar tidak berhenti begitu saja.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan jurusan ini beberapa tahun ke depan.

Saya juga tidak tahu apakah nantinya akan ada lebih banyak siswa yang tertarik belajar perikanan.

Namun selama masih ada murid yang bertahan untuk belajar, saya percaya proses pendidikan tetap harus berjalan.

Bagi saya, pendidikan bermutu bukan hanya tentang sekolah besar, fasilitas lengkap, atau kelas yang penuh peserta didik.

Pendidikan bermutu juga berarti memastikan bahwa anak-anak di daerah, termasuk yang belajar di jurusan sepi peminat, tetap mendapatkan perhatian dan kesempatan yang sama.

Cerita ini mungkin terlihat sederhana. Hanya seorang guru dan satu murid di ruang kelas yang sunyi.

Namun dari ruang kecil itu, saya belajar bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam keadaan ideal.

Kadang pendidikan hadir dalam bentuk paling sederhana: seorang guru yang tetap datang mengajar dan seorang murid yang tetap bertahan belajar.

Hari ini Wandi masih duduk di bangku kelas XI Agribisnis Perikanan SMK Negeri 1 Mempawah Hulu.

Saya hanya berharap ia dapat terus bertahan sampai lulus sekolah.

Karena di tengah keadaan yang tidak mudah, bertahan untuk tetap belajar juga merupakan sebuah perjuangan.

Kirim Pesan